Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, December 22, 2012

Seperti Ibu



teng teng teng..
teng teng teng..
suara lonceng yang terbuat dari besi berbentuk setengah lingkaran itu berbunyi, suaranya yang khas membuat ia menjadi penguasa sekolah kala itu, karat yang semakin tebal pertanda usianya sudah semakin tua. Pak Yamin dengan seragam cokelat dan sepatu pantofel nya yang sudah di semir dengan gagah berdiri di pintu gerbang sekolah, di tangan kanannya memegang kayu eboni, membuat siapa saja yang melihatnya akan ketakutan, khususnya bagi siswa SDN 10.

Sunday, November 18, 2012

Akhir dari Sebuah Tantangan



Lonceng berbunyi pertanda seluruh warga pondok harus sudah berada di mesjid jami’, banyak santri yang berlari meninggalkan kamar mereka agar tidak mendapat hukuman dari kakak pengurus markazi, aku masih saja duduk santai diteras mesjid , memperhatikan ribuan santri yang lewat dihadapanku, sambil menunggu adzan shalat ashar dan melihat ekspresi kakak pengurus yang berlagak sok galak. 

Akhirnya aku berdiri juga dari tempat dudukku, meninggalkan teras mesjid yang terbuat dari kramik berwarna hitam. Aku lekas mengambil air wudlu di ka’bah, bukan ka’bah baitullah yang berada di tanah suci sana, itu hanyalah tempat wudlu yang berbentuk persegi dan berwarna hijau, entah kenapa dinamakan ka’bah, menurutku hanya karena bentuknya yang persegi mirip seperti bentuk ka’bah baitullah, sehingga para santri menyebut dengan nama tersebut, jawabanku sama seperti jawaban mudabbirku (pengurus kamar) ketika aku bertanya kepadanya mengenai bangunan yang terletak sisi selatan mesjid, karena bentuknya persegi jadi dinamakan ka’bah, tapi entahlah nama itu sudah ada lama sekali pemberian dari santri-santri terdahulu.

Friday, November 16, 2012

Mengapa Harus Menulis..??

Menulis adalah suatu hal yang menyenangkan, walau terkadang sering kali menulis hal-hal yang tidak jelas yang tak mengerti alur tujuannya sehingga ending-nya adalah membingungkan si pembaca, akan tetapi semua itu tetap saja menyenangkan bagi para pecinta nulis. Menulis juga digunakan untuk media menyalurkan emosi seseorang, entah saat itu ia memiliki emosi positif ataupun emosi yang negatif, eh emosi bukan hanya yang negatif saja loh, seperti menangis, bersedih, atau hal-hal buruk lainnya, akan tetapi ada juga yang positif seperti kektika seseorang sedang bahagia. coba perhatikan para pengguna jejaring sosial seperti pengguna Facebook atau Twitter, walau dalam keadaan senang atau sedih pasti mereka menuliskan keadaan mereka saat itu juga, jadi menulis adalah salah satu cara menyalurkan emosi.