Thursday, May 17, 2012

Di Gedung Ini

kali ini benar-benar mengingatkan aku pada masa lalu, masa dimana aku tumbuh dan berkembang menjadi seorang remaja, remaja alay.. tentu tidak, karena dulu istilah alay belum sepopuler seperti saat ini, malah aku tak pernah mendengar kata itu.

desa Ngabar, entah kapan waktunya aku sampai ke desa ini, desa yang memberika sejuta kenangan, desa yang memberikan pelajaran hidup yang penuh makna, desa yang menyatukan anak-anak lugu yang datang dari berbagai daerah di indonesia. lugu..? ya, aku katakan lugu karena kita masih sangat lugu dan masih polos, teriangat jelas diingatanku, teman-teman seangkatanku yang baru saja didaftarkan oleh orang tua mereka, setelah segala urusan selesai, maka orang tua mereka harus memenuhi kewajiban yang lain dan harus meninggalkan mereka, garis kesedihan terlukis jelas diwajah mereka, menangis karena ditinggal oleh orang tua. ahhh, manja sekali mereka pikirku saat itu,
tapi itulah yang terjadi, terlihat jelas sang anak dan orang tua sedang menangis, mungkin itu wujud kasih sayang yang nyata, tapi bagaimana denganku, ketika berpisah dengan mama saat itu, tak setetes air matapun jatuh membasahi pipiku, aku hanya mendapat pelukan dari mama sambil mengusap kepalaku dan menasehatiku untuk hati-hati diperantauan. setelah memelukku, aku melihat mata mama berkaca-kaca, sebagai wujud rasa sayang kepada anaknya, tapi air mata itu tertahan, maka tak sepantasnya aku untuk menangis, sebagai wujud komitmenku kepada orang tua jika aku mau belajar sungguh-sungguh, aku harus tegar walau ditinggal oleh orang tua, walau sebenarnya aku merasa sedih.

di gedung ini, gedung pertama kali aku tempati, gedung penerimaan tamu, disinilah aku beristirahat bersama mama, sebelum aku mendapatkan kamar baruku. disinilah aku belajar bersama-sama teman sekelas, sandi, sandra, aldo, arbendi, arip, dan semuanya teman kelas 1 C, aku sangat rindu pada kalian, digedung inilah kita belajar bersama selama setahun. akkhhh, kapan itu akan terulang kembali.

gedung ini juga mengingatkan aku ketika mengabdi menjadi seorang pengurus pusat, Organisasi Santri Wali Songo (OSWAS) itulah nama organisasiku yang mengajarkan banyak hal, lagi-lagi pelajaran kehidupan yang aku dapatkan disini, belajar untuk berinteraksi dengan orang lain, dengan para wali santri, benar-benar menjaga citra, karena nama pondoklah yang menjadi taruhan jika citranya jelek. ditemani ronal, salah satu teman oswas berasal dari Ranau Sumatra Selatan, hmm,. terimakasih telah menemani selama setahun, terimakasih juga karena sudah menghargai kerjaku, dari awal aku sudah menjelaskan padamu bahwa aku hanya membantu kerjamu disini, karena bagian asliku adalah bagian pengajaran, jadi saling menghargai kerja satu sama lain saja, yang jelas, aku akan mensukseskan programmu disaat aku bisa dan aku selalu mengusahakan itu. terimakasih karena kamu tak pernah mengeluh. masih ingatkah dirimu ketika kita selalu membingungkan teman-teman yang kelaparan..?? ketika ditanya kunci dapur kepadamu kamu selalu menjawab mereka untuk meminta kuncinya padaku, ketika aku yang ditanya maka aku menjawabnya kalau kunci ada padamu, sampai akhirnya mereka capek sendiri dan pergi begitu saja, kasihan sekali, hehehee... itukan makanan buat tamu, bukan buat santri, jadi maaf ya kawan. masih ingatkah ketika makanan habis dan masih banyak tamu yang belum kebagian makanan, akhirnya kita sendiri yang kelabakan untuk mencari nasi, kalau benar-benar tidak ada lagi, kita harus membeli nasi keluar,. masih ingatkah kamu ketika kunci dapur itu hilang, dan akhirnya makanan tamu saat itu dicuri orang,. hahaha, sampai segitu dendamnya teman-teman saat itu. sampai-sampai alat-alat didapurpun hilang satu persatu, tempat nasi, sendok, piring, gelas, apalagi,. hmm, sungguh merepotkan. masih ingat juga nggak, waktu kita lagi nongkrong di tempat jemuran, trus ada anak mu'alimat (baca-santri putri) lagi lewat dibawah, trus kita siram mereka pakai air,. apalagi kalau ada si CT,. dia tuch yang paling semangat urusan mejeng dari tempat jemuran sambil lihatin anak mat yang lewat, atau menunggu sang kekasih lewat, trus lempar-lemparan senyum dah mereka,. hahahaa

itu semua tinggal kenangan, kenangan manis yang pernah aku dapatkan. sekarang aku berdiri disini, memperhatikan dunia sekitarku, benar-benar berbeda tapi aku masih merasakan hal yang sama, masih seperti dulu, masih terdengar suara tangisan santri baru, masih terlihat jelas ketika kita benar-benar sibuk pada waktu ini, sore hari yang harus membersihkan gedung ini, menyapu, mengepel, merapikan meja makan, semua pekerjaan rumah kita lakukan. semuanya masih nyata.

1 comment:

  1. hahahha...sangat inspiratif bisa membuka kembali memory yang sudah terpendam lama....makasih ruq tanpa kamu "THE GUEST VISSITOR SECHTION" (krng lbh seingtq ky gt)gak kan terorgnsir sm aq sndri cz aku dlu juga blm tau apa2 ttg mngment orgnsasi n systmnya,,,makasih udah berkorban buat bapenta......andaikan aku yang skrng bisa balik lagi ke masa lalu utk menjlankan kmbali amanah tsbt...tntu akan banyak yang hrus di benahi,,terutama dlm hal kinerja dan pelayanan..serta memberikan sebuah inovasi yang berbeda..sebenarnya hal ini baru muncul ketika sudah "keluar",kenapa gak dari dulu, hehehehehe,,, artinya bahwa tugas aqt lah sbg "Eks" memberikan masukan2 kpd adk2 oswas yng skrng,, agar mind set mereka bisa di improvisasi dengan sisytem yg ada di luar...jangan ngikuti system lama (taklidul a'ma,,hehhehe)....terutama KETUM...

    ReplyDelete

terimakasih telah membaca dan meninggalkan komentar di blog ini, mohon maaf atas ketidak nyamanan yang kamu rasakan ketika berkunjung disini,.
jangan lupa untuk berkunjung kembali ya, dan nantikan kisah-kisah seru lainnya,. (^_^)